Telihat Seperti Masalah Jerawat Biasa, Padahal Hal itu Adalah Dermatitis Perioral


Pada 16 September 2019, pembawa acara CBS Frances Wang mengungkapkan melalui Instagram bahwa dia menderita kondisi kulit yang menyakitkan. Sekarang, Wang, yang tinggal di Miami, semakin membuka lebih banyak tentang pengalamannya dengan harapan dapat membantu orang lain menghadapi hal yang sama.

Dalam sebuah wawancara baru - baru ini, Wang mengungkapkan bahwa masalah kulitnya dimulai ketika dia diresepkan krim steroid topikal untuk eksimnya, yang dia harapkan akan hilang setelah pindah ke Miami dari rumahnya di California.

Tapi,bukannya eksim yang di deritanya sembuh, krim steroid hanya memperburuk hal-hal dengan membuat kulit pecah menjadi "jerawat yang menyakitkan dan merusak penampilan,".
Itu setelah diresepkan dengan penggunaan konsentrasi steroid lebih besar dari seorang dokter yang bertujuan untuk mengobati penyakit eksimnya, Wang mengatakan "wajahnya langsung bertumbuhan bercak,", seperti saya memiliki reaksi alergi yang parah, mirip seperti jerawat yang besar."

Wang mengatakan bahwa dia menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk menyembunyikan masalah kulitnya dari kolega dan teman - temannya, tetapi begitu rasa sakitnya menjadi terlalu banyak untuk ditangani sendiri, dia mencari bantuan dari dokter kulit dan akhirnya di diagnosis dengan kondisi yang disebut dermatitis perioral, di sekitar mulut yang bisa dipicu oleh penggunaan krim steroid topikal. (Wang mengakui bahwa kondisinya telah menyebar ke dahinya juga. "Saya kira itu tidak lagi hanya perioral," katanya di Instagram.)

Apa itu Dermatitis Perioral ?

Menurut Kedokteran National Institutes of Health, dermatitis perioral adalah kelainan kulit yang menyerupai jerawat atau rosacea, dan muncul sebagai sedikit tonjolan merah di bagian bawah wajah. Benjolan merah itu, dapat menyebabkan rasa terbakar di sekitar mulut, dan mungkin juga diisi dengan cairan atau nanah.

Dermatitis perioral dapat disebabkan oleh sejumlah faktor,"penggunaan krim steroid topikal yang berkepanjangan" (seperti kasus Wang) adalah salah satu penyebab paling umum. Bisa dapat dipicu oleh resep semprotan steroid yang dihirup melalui mulut dan hidung, menggunakan terlalu banyak pelembab dan "krim wajah berat," dan iritasi kulit, rosacea, dan bahkan pasta gigi berfluorinasi.

Kondisi ini biasanya didiagnosis setelah dokter kulit memeriksa Anda, tetapi tes lain dapat dilakukan untuk menentukan apakah kondisi itu disebabkan oleh infeksi bakteri. Sayangnya, dermatitis perioral tidak hilang segera setelah penggunaan krim steroid dihentikan. Bahkan, kemungkinan akan menjadi lebih buruk sebelum menjadi lebih baik. "Setelah krim steroid dihentikan, muncul ruam seperti jerawat dan terasa lebih buruk selama berhari-hari hingga berminggu-minggu sebelum mulai membaik," menurut situs web AOCD. Dikatakan bahwa, meskipun Anda mungkin tergoda untuk menggunakan krim untuk menghilangkan ruam, Anda harus menahan keinginan itu, karena ruam yang di hasilkan dari penyakit Dermatitis Perioral harus di tangani secara tepat.

Tindakan yang mesti dilakukan ketika anda mengalami seperti ini adalah dengan mengganti produk itu dengan sabun ringan atau pengganti sabun bisa membantu. Namun, Anda tidak boleh menggosok wajah Anda. Selain itu, dokter kulit Anda mungkin meminta Anda untuk berhenti menggunakan pasta gigi berfluorinasi jika ruam anda masih belum ada perkembangan, serta dari semua itu, mereka mungkin menyarankan antibiotik oral dan lotion atau krim antibakteri topikal.

Tetapi, sementara kekambuhan mungkin terjadi, "dermatitis perioral adalah masalah kulit yang umum, tetapi untungnya kebanyakan orang melakukannya dengan sangat baik dengan perawatan yang tepat."
Adapun Wang, secara khusus mengatakan dia masih berjuang dengan kulitnya, meskipun jerawatnya sedikit membaik.

Ciri -Ciri Produk Perawatan Wajah Yang Mengandung Steroid Topikal

Kandungan krim steroid topikal di gunakan pada produk skin wajah yang berfungsi meredakan reaksi radang atau imflaamsi seperti pada penyakit kulit kemerahan dermatitis, acne / jerawat hingga psoriasis (radang kulit akibat autoimun). Digunakan untuk terapi, tipe kortikosteroid ada berbagai golongan berdasarkan kemampuan efeknya seperti superpoten hingga potensi lemah, yang kemudian memberikan efek samping berbeda berdasarkan konsentrasi, jenis dan lama penggunaananya. Ciri produk yang mengandung kortikosteroid sulit dideteksi, umumnya berbau seperti obat umumnya.

Post a Comment

0 Comments